Sebuah Renungan Tentang Kebahagiaan
Tulisan lama di blog saya yang dulu sih sebenernya. Ga apa-apa lah yaa..
—
Terinspirasi oleh perkataan seorang teman, “Urang mah hayang hirup tenang (Saya mah ingin hidup tenang)”. Deg! Tanpa sadar, hati dan pikiran saya langsung merenungkan kembali makna ketenangan hidup yang sebenarnya. Ketenangan yang membawa kebahagaiaan sejati yang selalu saya dambakan. Kebahagiaan yang selama ini saya gambarkan dengan memiliki harta yang melimpah, rumah yang indah, jabatan yang tinggi, mobil yang mewah, penghargaan dan pujian, dan hal-hal keduniawian lainnya.
Perkataan teman itu telah menyadarkan saya untuk mengubah secara drastis gambaran kebahagiaan yang lama tertanam di otak saya. Harta, jabatan, dan pujian bukanlah jalan utama menuju kebahagiaan sejati. Mungkin iya, untuk sesaat. Setelah semua itu saya peroleh, selanjutnya apa? Apakah saya akan tenang dan bahagia selamanya? Tidak. Apakah pencarian harta, jabatan, dan pujian saya berakhir? Tidak. Malah sebaliknya, saya akan terus-menerus menumpuk itu semua sampai saya merasa puas. Sedangkan batas kepuasan adalah kematian. Karena begitulah fitrah saya sebagai manusia, makhluk yang tidak pernah merasa puas. Akibatnya selama apapun saya hidup, pencarian itu tidak akan pernah berakhir.
Saya pun bertanya, apa yang bisa membawa saya menuju kebahagiaan sejati? Kebahagiaan dimana saya bisa menikmati dan menyukuri segala sesuatu yang telah saya miliki dan tidak menyesali sesuatu yang tak bisa saya miliki. Kebahagiaan yang bisa dirasakan dalam kemakmuran maupun kesengsaraan, kegembiraan maupun kesedihan.
Ternyata jawabannya sederhana saja, persis seperti yang dikatakan teman saya itu: Hidup yang tenang! Hidup yang selalu merasakan ketenangan hati dalam setiap langkah baik dalam kegagalan maupun keberhasilan. Hati yang tenang, tentram, dan damai adalah kunci menuju kebahagiaan sejati. Apapun persoalan hidup yang saya hadapi, ketenangan hati akan membuat saya tangguh dan mampu mengatasinya.
Lalu bagaimana mencapai hati yang tenang? Bagaimana membuat hati merasa tenang dan tentram setiap saat? Hmmm.. rupanya inilah yang membuat saya terjebak dalam gambaran kebahagiaan yang berorientasi pada kesenangan duniawi. Tanpa merenungkan esensi kebahagiaan lebih jauh, saya langsung memvonis, harta adalah jalan utama menuju kebahagiaan. Dengan memiliki harta, saya tak akan pernah takut merasa kekurangan dan itu akan menenangkan hati saya dan membuat saya bahagia. Sepintas mungkin benar. Tapi apakah saya harus memiliki kekayaan dulu untuk bisa merasakan ketenangan hati? Kalau iya, tidak adil rasanya kalau pada akhirnya saya tidak bisa mendapatkan harta yang melimpah. Hati saya akan selalu diliputi kesedihan dan kegelisahan. Ketenangan hati hanyalah untuk orang-orang yang berkuasa atas harta. Kalau begitu kebenarannya, Tuhan tidak adil.
Kemudian, saya teringat tulisan seseorang di bukunya. Kebahagiaan adalah suatu kondisi tanpa syarat, an unconditional state. Maksudnya, untuk menjadi bahagia tidak diperlukan syarat apapun baik itu harta, tahta ataupun wanita. Kita bisa merasakan kebahagiaan kapan pun kita mau. Karena kita lah yang mengendalikan perasaan itu. Saya tidak menyangkal maupun membenarkan sepenuhnya pernyataan ini. Karena saya sendiri tidak bisa ujug-ujug memerintahkan hati saya untuk tenang apalagi di saat hati saya sedang gelisah. Saya membutuhkan stimulus, rangsangan, dorongan, katalis atau apapun lah namanya untuk menenangkan hati saya. Anehnya, stimulus yang saya cari ternyata telah lama tertanam di hati saya. Saya menemukan ‘sesuatu’! ‘Sesuatu’ itu telah lama hadir di hati tanpa saya sadari. Dengan ‘sesuatu’ saya selalu dapat memerintahkan hati untuk tetap tenang. ‘Sesuatu’ itu adalah syarat mutlak bagi saya untuk merasakan ketenangan hati setiap saat. Apakah ‘sesuatu’ itu? Saya sendiri tidak bisa menggambarkannya. Sangat sulit bagi saya menggambarkan ‘sesuatu’. Seperti angin, ‘sesuatu’ itu hanya bisa saya rasakan tanpa bisa saya gambarkan.
Selama ini, saya tidak menyadari kalau saya mendapatkan ‘sesuatu’ hanya dengan memenuhi kewajiban (yang pada akhirnya menjadi kebutuhan) saya kepada Yang Menciptakan. Sebagai makhluk ciptaan, saya mempunyai kewajiban dan hak dalam menjalani kehidupan. Namun, seringkali saya lupa akan kewajiban dan tak henti-hentinya menuntut hak. Seiring dengan kealpaan saya akan kewajiban, ‘sesuatu’ itu pun meredup dan hati saya tidak bisa lagi saya kendalikan. Pada akhirnya, yang saya rasakan hanyalah kegelisahan dan kegundahan. Inilah hal yang paling sulit dan akan menjadi perjuangan terberat bagi saya, menjaga ‘sesuatu’ agar tetap tertanam kuat di hati.
Kini, ketika saya telah menyadari kehadiran ‘sesuatu’ sebagai jalan saya menuju kebahagiaan sejati, yang harus saya lakukan hanyalah menjalani setiap langkah kehidupan tanpa rasa takut dan terbebani dengan tujuan mencari kekayaan. Saya harus memainkan peran saya dalam kehidupan untuk menjalani dan mengubah takdir: bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup, membangun keluarga, menjadi seorang suami dan ayah, memberikan cinta bagi keluarga, orang-orang, dan alam di sekitar. Bila dalam perjalanan hidup itu saya mendapatkan harta yang melimpah, rumah yang megah, mobil yang mewah, atau menjadi orang hebat yang selalu mendapatkan pujian dan penghargaan, saya anggap semua itu adalah bonus dari Yang Menciptakan. Karena tanpa semua itu pun saya bisa merasakan kebahagiaan. (sup)
